Snippet

 Preview and Information
 
Artist: Vision Divine
Album: Destination Set To Nowhere
Released: 2012
Style: Power Metal

* Fabio Lione - Vocals (Rhapsody of Fire, ex-Labyrinth (Ita), ex-Athena (Ita))
* Carlo Andrea Magnani (Olaf Thorsen) - Guitars (Skylark, ex-Labyrinth (Ita)
* Andrea Torricini - Bass (Vision Divine)
* Alessio Lucatti - Keyboards (Etherna (Ita), guest in Vexillum (Ita))
* Federico Puleri - Guitar (Essence(Ita), Seven Gates (Ita), guest in Vexillum (Ita))
* Alessandro Bissa - Drums (Silent Victory, Scream (Ita), Bad Faith)

Tracklist
CD1:
01 – S’ I Fosse Foco
02 – The Dream Maker
03 – Beyond The Sun And Far Away
04 – The Ark
05 – Mermaids From Their Moons
06 – The Lighthouse
07 – Message To Home
08 – The House Of The Angels
09 – The Sin Is You
10 – Here We Die
11 – Destination Set To Nowhere

CD2:
01 – New Eden
02 – Vision Divine
03 – Send Me An Angel
04 – Taste Of A Goodbye
05 – The Fallen Feather
06 – La Vita Fugge
07 – The Perfect Machine
08 – God Is Dead
09 – The 25th Hour
10 – Voices
11 – Gutter Ballet (Savatage Cover Version)

Sambil menunggu rilisan Rhapsody Of fire, alangkah baiknya mendengarkan album ini dulu. Sebuah perwujudan power metal yang sangat atmospheric saya katakan, dimana vocal Fabio Lione terdengar sangat apik, dipadu dengan permainan arpeggio ala Carlo Andrea Magnani yang sangat progresif, juga improvisasi keyboard Alessio Lucatti yang tak kalah dengan Alex Staropoli. Album ini bisa dikatakan kembalinya kekuatan Vision Divine, setelah di album sebelumnya (9 Degrees West Of The Moon) tampak kurang bersinar. Di album dobel ini, kisah tragedy dan fantasy masa depan berbaur menjadi satu, sehingga benar-benar layak dianggap sebagai Future Metal masa kini. Saya malah menganggap, album ini mirip seperti Narnia era Christian Liljegren yang powerful, namun dibawakan secara lebih progresif dengan alunan vocal khas Fabio Lione, sangat brillian!!

Tentu saja selalu ada kisah dibalik semua lagu konseptual seperti ini, dan hanya dengan melihat covernya pun, sebenarnya kita sudah bisa tahu. Fairy tale tentang kedatangan The Chosen One (Mesiah) yang akan membawa manusia-manusia yang terpilih dengan Bahtera (Ark), ke sebuah dunia damai bersama para Malaikat. Hampir mirip seperti Mitologi Nabi Nuh, Isa Al-Masih dan juga Al Mahdi, yang diolah sedemikian kreatif menjadi kisah fantasi masa depan ala metal. Utopia khas para Dreamers.

Ada banyak perenungan spiritual dan juga pelajaran moral di album ini, simak saja The Lighthouse, The Sin Is You, Here We Die dan juga God Is Dead. Silahkan cari liriknya di http://www.darklyrics.com/lyrics/visiondivine/destinationsettonowhere.html#2 untuk lebih jelasnya.

Sedangkan tentang musiknya sendiri, tak perlu bnayak diulas, karena Vision Divine memang salah satu kekuatan di genre Power Metal, yang sudah sangat fasih memainkan skill tingkat tinggi, juga perpaduan harmonisasi tiap instrument yang khas band Italia. Di beberapa lagu, sempat terdengar seperti Dream Theater, seperti di lagu Destination Set To Nowhere. Namun permainan keyboardnya jelas tidak serumit dan seaneh Jordan Rudess. Overall, album ini sangat bagus buat refresing. Musik yang tidak begitu menghentak namun penuh nada-nada apik yang melodius.

Preview and Information
 
Genre: Heavy Metal
Label: Elektra
Playing time: 62:40

Tracklist:
01. Enter Sandman
02. Sad But True
03. Holier Than Thou
04. The Unforgiven
05. Wherever I May Roam
06. Don’t Tread On Me
07. Through The Never
08. Nothing Else Matters
09. Of Wolf And Man
10. The God That Failed
11. My Friend Of Misery
12. The Struggle Within

Bagi banyak orang, inilah album yang paling dikenal, apalagi album ini banyak mencetak hits semacam 'Enter Sandman', 'Sad But True', 'The Unforgiven', 'Whenever I May Roam', 'Nothing Else Matters', 'Of Wolf And Man', dan 'My Friend Of Misery'. Semuanya berkat campur tangan Bob Rock yang jadi produser album ini, secara pasti diketahui, Bob Rock-lah yang telah membawa nama Guns N Roses menjadi besar, begitu juga Bon Jovi, Montley Crue, Mr. Big, dan juga band-band lain. Lewat tangan dinginnya, musik metal mampu bersaing dengan musik Pop dan Rock.

Album ini, berisikan kreatifitas Metallica yang sangat terkesan 'dewasa' dan 'bijak'. Barisan lagu di album ini bertempo sedikit lebih lambat dibanding album-album sebelumnya, tapi memiliki tingkat improvisasi dan skill yang tinggi. Beberapa lagu dimainkan di tuning Drop D, yang sangat jarang dimainkan oleh band lain pada masa itu. Selain itu, lagu yang bertema ballad malah menjadi daya tarik tersendiri; sebut saja 'Nothing Else Matters' yang jadi langganan diputar di beberapa radio, juga 'The Unforgiven' yang sampai berseri menjadi 3 di album 'Death Magnetic'. Semua lagu memiliki kisah tersendiri, mulai dari ajaran berdoa sebelum tidur dalam 'Enter Sandman', hingga persahabatan sejati dalam 'My Friend Of Misery'. Kebanyakan fans malah beranggapan, bahwa sebagian besar lagu ini didedikasikan untuk Cliff Burton, mantan Bassis mereka yang memang sangat berpengaruh dalam perkembangan Metallica era 'Kill 'Em all' hingga 'Master Of Puppets'. Di album ini banyak sekali lick-lick melodius Kirk Hammet, entah bertempo cepat atau lambat, yang sangat easy-listening, bahkan menjadi acuan dari banyak shredder masa kini.

Ada banyak instrumen tambahan yang ditampilkan di beberapa lagu, seperti penggunaan Gong dan sitar di lagu 'Whenever I May Roam'. Sayangnya, di album ini tidak ada track instrumental yang selalu menjadi ciri khas Metallica, mungkin karena ribet ya bikin komposisi tanpa syair...kekeke

Apapun kenyataannya, album ini tetap layak dikoleksi, apalagi jika anda memang seorang Metal Militia. Hail!!



Preview and Information

Genre: Thrash Metal
Label: Elektra
Playing time: 63:10

Tracklist:
01. Blackened
02. ...And Justice For All
03. Eye Of The Beholder
04. One
05. The Shortest Straw
06. Harvester Of Sorrow
07. The Frayed Ends Of Sanity
08. To Live Is To Die
09. Dyers Eve

Apa yang dikhawatirkan oleh banyak fans Metallica setelah kehilangan Bassis-nya adalah menurunnya tingkat kreatifitas dalam bermusik, juga berubahnya pola yang sudah lama diterapkan Metallica; powerful, thrash dan juga penuh lirik bijaksana yang penuh semangat. Tapi ternyata hal itu tidak perlu dikhawatirkan, karena permainan Jason Newsted mampu memberikan warna baru bagi Metallica, tanpa merubah gaya mereka yang sudah terpatri dalam fans Metallica.

Album ini masih berupa kumpulan track panjang yang melelahkan, namun juga jenius. Lagu pembuka yang sangat khas, diawali dengan fade-in, yang langsung digebrak dengan permainan drum yang menghentak ala Lars Ulrich. 'Blackened' mampu membuka album ini dengan raungan khas Metallica, hampir serupa dengan 'Battery' di album Master of Puppets dan juga 'Fight Fire With Fire' dari album Ride The Lightning. Keras, menghentak dan bertenaga!

'And Justice For All', memiliki formula khas Metallica, hampir seperti 'Master Of Puppets', intro yang panjang, lirik yang kaya makna, improvisasi yang 'nggilani', dan durasi sangat panjang yang bikin bosan. Lagu yang sebenarnya berkisah tentang keadilan personal ini terasa begitu dalam, dan seperti mendobrak pemahaman kita akan keadilan sejati. Sementara 'One' adalah sebuah anthem anti perang yang langsung diingat oleh banyak orang, bahkan oleh mereka yang tidak tahu tentang Metallica. 'The Shortest Straw' dan 'Harvester Of Sorrow' terdengar sangat familiar di telinga, lirik dan permainan cepat yang menjadi ciri khas, ditambah permainan rithem yang enak didengar. Satu lagi lagu yang bikin bosan di album ini, 'The Frayed Ends Of Sanity' memiliki durasi panjang, permainan pedal yang menyeramkan di bagian intro, dan permainan solo Kirk Hammmet di bagian tengah yang ribet dan penuh tehnik. 'To Live Is To Die' adalah track instrumental di album ini, yang tidak seindah 'The Call Of Ktulu' ataupun 'Orion', namun tetap terdengar sangat melodius. Lagipula, lagu ini adalah persembahan kepada almarhum Cliff Burton, bisa dilihat pada barisan liriknya yang dibacakan seperti puisi di bagian akhir track. Dan album ini ditutup dengan permainan tergesa-gesa 'Dyers Eve', yang bertema pemberontakan masa muda pada pengekangan dan doktrinasi keluarga.

Lewat album ini, Metallica serasa masih mampu menampilkan permainan trash yang sangat dinikmati banyak orang dan juga dijadikan banyak acuan band lain. Meskipun dirasa lebih pelan dan lambat dibanding album sebelumnya, tapi album ini juga lebih melodius dan penuh improvisasi yang menandakan bahwa Metallica telah berkembang, dan hal itu dibuktikan dalam album mereka yang berikutnya; "BLACK ALBUM".

Preview and Information

Genre: Thrash Metal
Label: Vertigo
Playing time: 52:50

Tracklist:
1. Battery
2. Master Of Puppets
3. The Thing That Should Not Be
4. Welcome Home (Sanitarium)
5. Disposable Heroes
6. Leper Messiah
7. Orion
8. Damage, Inc.

Saya yakin semua akan setuju bila album ini adalah album terbaik Metallica. Semua lagu yang ada di album ini berdurasi lebih dari 5 menit, dengan lirik tentang terror, perang dan juga isu sosial yang tengah terjadi pada masa itu. Album ini juga memuat lagu paling metal sepanjang masa, 'Master Of Puppets' dianggap sebagai lagu yang paling berpengaruh oleh banyak anak band, seperti Dream Theater, Avenged Sevenfold, Mars Volta, Killswitch Engange, Mastodon, Testament, dan tidak ketinggalan Power Metal serta Jamrud! Master Of Puppets adalah album yang membuat dunia metal menjadi seperti sekarang ini. Lirik dan komposisi musiknya hampir tidak kalah dengan perubahan jaman, meskipun lagu ini direkam tahun 1986, namun album ini masih tetap layak didengar bahkan sampai sekarang!

Dibuka dengan permainan akustik yang keren di lagu 'Battery', durasi intro yang 'nggilani', disambut dengan teriakan cepat dan khas penuh tenaga! 'BATTERY!'. Lalu di lagu kedua, 'Master Of Puppets' menampilkan lagu berdurasi sangat panjang yang penuh improvisasi hampir di setiap lirik dan chordnya. Permainan gitar Kirk Hammet yang memakai power chord + downstroke sangat menginspirasi banyak pemain gitar masa kini dalam menciptakan lick-lick yang gahar.

'The Thing That Should Not Be', terdengar sangatlah melodius, dengan nuansa kelam yang penuh imajinasi, mirip seperti 'For Whom The Bell Tolls', dilanjut dengan 'Welcome Home (Sanitarium)', sebuah lagu dimana Cliff Burton sangat berperan dalam memainkan bass yang terdengar unik. Ini adalah lagu yang penuh permainan riff dan juga diatonik. Dan selalu ada sebuah track instrumental yang menjadi ciri khas Metallica, dan 'Orion' adalah track instrumental yang layak dengar, sangat melodius meskipun dimainkan dengan riff-riff sederhana, dan anehnya terdengar sangat atmospheric, seperti judulnya yang melambangkan Rasi Bintang.

Apa yang sudah diplot di album sebelumnya, sepertinya kembali terulang di album ini, tapi dibawakan dengan lebih variatif dan bertenaga. Maklum, di era masa muda Metallica, mereka memang mampu menciptakan lagu-lagu dengan tingkat kreatifitas sangat tinggi, yang hasilnya bisa didengarkan di ke-empat album awal mereka (Kill 'Em All — And Justice For All). Semuanya berkat campur tangan Flemming Rasmussen, yang memang memberikan kontribusi besar pada album 'Ride The Lightning' dan juga 'Master Of Puppets'. Album ini memiliki sound yang dahsyat, lirik yang sangat bagus dan juga sangat klasik. Sayangnya, hal ini tidak bisa ditemukan lagi di album Metallica berikutnya, dan kematian Cliff Burton juga seperti menjadi faktor perubahan musik dalam Metallica.

Mengulas lebih jauh tentang album ini, saya juga akan membicarakan versi covernya yang dibawakan oleh Dream Theater. Mengingat bahwa lagu-lagu dalam album 'Master Of Puppets' sangatlah keren, namun apa yang ditampilkan oleh Dream Theater juga tidak kalah sangar. Maklum, mengingat mereka semua juga musisi top markotop, dan Dream Theater mampu mengolah lagu-lagu 'Master Of Puppets' dengan tidak meninggalkan ciri Metallica, namun juga tidak lupa memasukkan ciri progresive ala Dream Theater. 'Battery', 'Master Of Puppets', 'Welcome Home (Sanitarium)' dan 'Orion' terdengar lebih ribet dan eksploratif. Permainan keyboardnya (waktu itu masih Derek Sherinian) sanggup menggantikan rithem gitar, sehingga Petrucci bisa lebih fokus bermain di bagian solo, yang meskipun berbeda style dengan Kirk Hammet, tapi ternyata tidak kalah 'keriting' permainan gitarnya. Saya rasa, kedua album ini, baik versi Metallica maupun versi Dream Theater, layak masuk koleksi bagi anda pencinta musik Metal!

Apapun yang terjadi, saya tetap beranggapan, bahwa inilah album Metallica terbaik sepanjang masa, bahkan ini adalah album metal terbaik sepanjang sejarah. Dan saya masih sering berteriak seperti James Hetfield di lagu Disposable Heroes: I Was born for dying!!!

Preview and Information

Genre: Thrash Metal
Label: Vertigo
Playing time: 47:31

Tracklist:
1. Fight Fire With Fire
2. Ride The Lightning
3. For Whom The Bell Tolls
4. Fade To Black
5. Trapped Under Ice
6. Escape
7. Creeping Death
8. The Call Of Ktulu

Apa yang menarik dari Album kedua ini, adalah semangat TRASH yang sangat kental, yang mampu mencirikan musik metal pada era itu. Bisa dikatakan, lagu-lagu dalam album ini termasuk dalam kategori lagu terbaik Metallica; sebut saja 'For Whom The Bell Tolls' yang sangat fenomenal, bahkan sempat dicover oleh banyak band dari berbagai genre. Selain itu, 'Creeping Death' paling banyak dimainkan oleh anak band Magelang era tahun 90-an. Juga tidak ketinggalan, 'The Call Of Ktulu', permainan instrumental yang sangat khas dari Metallica, bahkan sering dijadikan sebagai pembuka tiap konser mereka.

Bagian pertama album ini dibuka denagn lagu 'Fight Fire With Fire' yang intronya berupa permainan fingering yang melodius, yang belakangan menjadi ciri di album-album berikutnya. Lagu ini sangat cepat, padat dan powerul, sangat khas Metallica. Kemudian dilanjut dengan 'Ride The Lightning' yang melegenda. Barisan riff-riff padat yang kemudian banyak menginspirasi band-band setelah Metallica.

Di album ini juga, Metallica menunjukkan bahwa mereka bisa bermain kalem, membius dan penuh nuansa atmospheric yang kelam. Simak saja 'For Whom The Bell Tolls' dan 'Fade To Black' yang seakan membawa pendengar ke dunia asing yang suram. Silahkan perhatikan barisan riff-riff yang melodius dan solo gitarnya yang sangat enak didengar.

Bagian kedua dari album ini, dimulai dari 'Trapped Under Ice', sebuah lagu cepat khas Metallica, yang memiliki variasi chord sangat banyak. Sayangnya, lagu ini jarang dimainkan ketika konser, sehingga beberapa pengamat Metallica, menganggap lagu ini sangat istimewa.

Apapun pendapat, saya, apapun pendapat anda, saya yakin semua setuju kalau album ini bisa dianggap album metal ter-keren sepanjang sejarah metal. Karena selain berisi lagu-lagu yang melodius, juga berhasil menanamkan cakar Metallica ke jagat per-Metalan dunia. Hail Metallica!!

   

Preview and Information
 
Genre: Thrash Metal
Label: Vertigo
Playing time: 48:48

Tracklist:
01. Hit The Lights
02. The Four Horsemen
03. Motorbreath
04. Jump In The Fire
05. Anesthesia/Pulling Teeth
06. Whiplash
07. Phantomlord
08. No Remorse
09. Seek And Destroy
10. Metal Militia

1983 adalah tahun yang sangat bersejarah bagi fans musik metal, karena di tahun inilah, album pertama Metallica dirilis dan langsung mendapatkan respons yang sangat cepat dari para fans metal di dunia. Line-up awal mereka, Hetfield / Ulrich / Mustaine / Burton dirasa sangatlah pas, dan mengguncang dunia metal pada saat itu.

Saat itu, Metallica dianggap sebagai band muda yang mencerminkan Trash metal sejati. Coba simak lagu-lagu mereka; terdengar sangat mentah, cepat, kasar tapi sangat dahsyat! "Whiplash", "Motorbreath" atau "Phantomlord" terdengar sangat Thrash! Vocal James Hetfield sangat tipis, penuh semangat jiwa muda dan melambangkan kemurkaan generasi muda pada dunia yang bergejolak pada saat itu, sehingga terasa sangat sempurna di album ini. "Seek And Destroy" tidak terdengar monoton sama sekali, meskipun bagi Anda yang bisa memainkan gitar & tahu tehniknya, bisa dengan mudah memainkannya dengan mata terpejam, tanpa salah! Kill 'Em All benar-benar album yang sangat luar biasa!

Dalam banyak riff, ada kecenderungan lebih ke NWOBHM, dan hal inilah yang menjadi faktor penting, kenapa lagu-lagu Metallica di album-album awal masih tetap saja enak didengarkan sampai saat ini. Bahkan tak dapat dipungkiri, band-band seperti Avenged Sevenfold, Mars Volta, Killswitch Engage, As I Lay Dying, Bullet For My Valentine, dan banyak band metal belakangan ini mengaku terispirasi dari lagu-lagu Metaliica di album awal. Semangat "Kill 'Em All" sangatlah tak tertahankan, dan ini tetap dipertahankan sampai beberapa album berikutnya. Setiap solo gitar, setiap pukulan pada drum terasa sangat tepat. Bahkan, saya merasa bahwa setiap ketukan yang dilakukan Ulrich sangatlah tidak umum. Jarang sekali terdengar ketukan drum seperti itu pada lagu-lagu metal lain selain Metallica. Dan yang lebih luar biasa adalah Cliff Burton yang menetapkan ciri khasnya, permainan Bass instrumental di lagu Anesthesia/Pulling Teeth. Selain itu, tehnik-tehnik yang dimainkan Hetfield dan Mustaine sangatlah tidak umum. Rithemnya hanya memainkan nada-nada dasar secara power dan cepat, sedangkan bagian fill-in diisi begitu rapat oleh Mustaine. Oh, ya, sebagai tambahan, meskipun di covernya tertulis nama Kirk Hammett, tapi pada proses rekaman, Dave Mustaine lah yang memainkan hampir semua track solo gitar. Ada kisah pahit sendiri di balik hal ini, yang pastinya, semua member di grup ini sudah tahu, jadi tidak perlu saya ungkapkan di review ini.

Album ini benar-benar album yang berhasil merubah pandangan orang, bahwa musik metal kurang mendapatkan perhatian dunia. Justru dengan album inilah, scene musik metal menjadi terangkat, dan musik metal mampu masuk ke dunia indutri yang sebelumnya hanya dikuasai musik Rock dan Pop. Dan saya memberi nilai 10 untuk album ini.

Preview and Information

Genre: Viking/Folk Metal
Format: mp3 | CBR320kbps
Country: Finland
More information & download links: Koleksiari

Tracklist:
01. Symbols
02. In My Sword I Trust
03. Unsung Heroes
04. Burning Leaves
05. Celestial Bond
06. Retribution Shall Be Mine
07. Star Queen (Celestial Bond part II)
08. Pohjola
09. Last Breath
10. Passion Proof Power
11. Bamboleo (Bonus Track)

Album yang rilis 27 Agustus 2012 ini termasuk album yang sangat dinanti-nantikan buat para penggemar musik metal, terutama fans folk-metal, karena memang Ensiferum dianggap sebagai salah satu band yang mengusung genre ini. Dan kebanyakan, para fans folk-metal Indonesia memang lebih banyak tahu tentang Ensiferum dibandingkan band folk-metal lain, seperti Korpiklaani, Cruachan atau Skiltron.

Album ini hampir tidak terdengar seperti Ensiferum, malah beberapa beranggapan, benarkah ini Ensiferum? terutama setelah mencermati lagu-lagunya. Aspek yang membuat Ensiferum diklasifikasikan sebagai band folk-metal seperti hilang dalam album ini. Album ini sebagian besar tidak memiliki kecepatan, kekuatan, kegembiraan, paduan suara yang epik, dan lebih dari itu, album ini sepertinya kurang semangat!

Tapi cobalah dengar track pembuka, berupa permainan instrumen yang apik, yang seperti menegaskan bahwa selalu ada artian di balik semua hasil dari kerja keras, meskipun terkadang dilupakan, sangat pas dengan judul 'Unsung Heroes' alias Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Dilanjutkan dengan 'In My Sword I Trust', sebuah lagu metal yang terdengar sangat tradisional, meskipun saya tetap beranggapan ada yang kurang dalam permainan bunyi-bunyian folk-nya. Lagu 'Unsung Heroes', bertempo lebih lambat, dan sangat tidak biasa, sehingga kurang mengena di telinga. Namun pesan yang disampaikan sangatlah bagus: Unsung heroes, Forgotten valour, Unknown soldiers, Entombed in time...

Track keempat, 'Burning Leaves' adalah salah satu lagu favorit saya, perjuangan mempertahankan pohon kehidupan dari serangan musuh. Sayangnya masih kurang jelas, apakah pohon kehidupan yang dimaksud adalah Yggdrasil? karena saya rasa kisah pahlawan dalam Album ini bukanlah tentang para Einhenjar. Namun olahan musik dari lagu ini sangatlah easy listening. Dibuka dengan permainan rithem yang indah, lalu disusul dengan vokal growl yang tetap masih bisa terdengar pelafalan liriknya.

'Celestial Bond' adalah lagu slow yang penuh permainan instrumen, gabungan dari berbagai macam melodi yang membentuk semacam lagu sedih. Terlebih lagi vokalnya disuarakan oleh Laura Dziadulewicz, additional vokal di album ini. Lagu ini bersambung di track ke-7, 'Star Queen', berupa instrumentalia Bouzouki (semacam gitar Yunani kuno) sepanjang 1 menit intro yang dilanjut dengan vokal Markus Toivonen yang clean. Lagu ini lumayan buat menemani tidur.

'Pohjola' adalah lagu yang dinyanyikan dengan bahasa Finland, satu-satunya di album ini, yang memiliki bagian chorus panjang dan monoton. Saya lebih memilih untuk mendengarkan 'Metsamies'-nya Korpiklaani; sama-sama tidak tahu artinya, tapi lebih bersemangat.

Track berikutnya, 'Last Breath' merupakan lagu epik yang sangat tradisional tapi dengan olahan musik sedih yang apik. Saya suka dengan liriknya yang bercerita, bahwa setiap perjuangan yang dilakukan oleh pahlawan, juga dilakukan oleh orang-orang sebelum mereka, dan sudah tugas generasi berikutnya untuk meneruskan perjuangan itu. Bagian melodinya juga sangat folk, dengan permainan gitar akustik, fluite, dulcimer, biola dan hammond. Sangat bercitarasa Ensiferum!

Akhirnya, album ini ditutup dengan lagu sepanjang 17 menit yang sangat epik, dan sepertinya puncak dari semua track yang sudah dimainkan. Lagu berirama lambat, tapi segera menaikkan temponya dan berubah menjadi warcry; Stop your quest, Or with fire you'll be cleansed, Confess... Death... dan kemudian album ini segera ditutup dengan bonus track, berupa teriakan dan permainan tergesa-gesa yang malah lebih mirip seperti band brutal death, namun dengan chorus yang malah lebih mirip lagunya Diablo Swing Orchestra, hahaha...