Snippet
Showing posts with label Novel. Show all posts
Showing posts with label Novel. Show all posts
Preview and Information

Judul : Sang Raja Jin; Petualangan Menemukan Cincin Nabi Sulaiman
Judul Asli: Master of the Jinn: A Sufi Novel
ISBN : 978-602-9255-19-5
Penulis : Irving Karchmar
Penerbit : Mizania
Tanggal terbit : Maret 2012
Jumlah Halaman : 320
Text Bahasa : Indonesia

Sinopsis
Aku, Ishaq, penulis buku ini, diperintah Guruku untuk menceritakan kisah sebuah perjalanan. Berkat rahmat Allah, hanya aku saja dari kelompok pengembara ini yang berhasil kembali.
Ali dan Rami telah tiada. Aku melihat mereka masuk ke dalam api. Dan Jasus, yang berhati suci, pun melompat ke dalam api. Sementara yang terjadi pada orang bijak Yahudi dan putrinya, atau Si Kapten, sama sekali aku tak tahu. Mereka tak mau pergi saat kuminta pergi.
Tapi aku yakin pada satu hal: Jin jahat itu masih ada.
Baalzeboul — Sang Raja Jin.

Konon, ada empat jalan menuju “kesejatian”: sains, filsafat, sastra, dan agama. Para pencari kesejatian sejak berabad-abad silam memilih jalan setapak mereka masing-masing. Ada yang berhasil menemukan “kebenaran”, tapi banyak pula yang tak kunjung memperoleh apa yang mereka cari. Alih-alih menemukan kebenaran, jalan yang mereka ambil justru membuat mereka tersesat.

Dalam Sang Raja Jin (Kayla Pustaka, 2008), novel karya Irving Karchmar, kita bisa merasakan jejak keempat jalan setapak itu, terutama dua jalan terakhir. Dalam pandangan saya, Sang Raja Jin adalah sebuah karya sastra yang berupaya menyingkap hakikat kesejatian melalui pendekatan tasawuf.

Kisah bergulir melalui penuturan sang narator, Ishaq, seorang murid tarekat yang semula adalah mahasiswa filsafat yang serius dan “rasional”. Sosok Syekh Haadi, sang mursyid tarekat, merupakan tokoh dominan yang kerap mewejang murid-muridnya tentang berbagai rahasia semesta dan kearifan tersembunyi. Ada pula Profesor Solomon, seorang ilmuwan Yahudi, dan putrinya yang penuh cinta, Rebecca; seorang tentara Israel yang “menemukan takdir” dengan cara yang ganjil, Kapten Aaron; sepasang saudara, Ali dan Rami, yang rela “meniadakan diri” untuk sesuatu yang lebih penting dari diri pribadi dengan terjun ke sumur api; Amenukal, seorang kepala suku pengembara yang ternyata sufi bermaqam tinggi; serta tokoh faqir misterius yang “sakti” jelmaan sesosok jin bernama Ornias. Sementara itu, yang dimaksud sebagai Raja Jin dalam novel ini adalah Baalzeboul, penghulu kaum jin yang tengah berseteru dengan kelompok jin kafir yang dipimpin Ifrit.

Irving menggunakan novelnya ini sebagai medium penggambaran pencarian kesejatian melalui tokoh-tokohnya yang beraneka latar, tapi dipertemukan “takdir” yang menggiring mereka ke satu titik yang sama: “Jalan Cinta”—tentunya setelah melalui berbagai pergulatan.

Sebagai sebuah novel, Sang Raja Jin mengambil bentuk yang sederhana, tapi mengandung isi yang dalam. Ia indah, sekaligus bermakna. Dulce et utile. Novel yang diterjemahkan dan disunting dengan bagus ini mengandung kisah yang menarik sehingga membuatnya enak dibaca, sekaligus mengajak pembacanya “merenung”. Dan saya kira, itulah inti novel ini: perenungan tentang hakikat kehidupan dan penciptaan.

Ada banyak hal yang menarik dibahas lebih lanjut dari novel ini, tapi yang paling menarik buat saya adalah yang berkaitan dengan kematian dan cinta. Berkaitan dengan dua hal tersebut, izinkan saya mengutip beberapa kalimat yang menggelitik dalam novel ini:

1. Kematian adalah salah satu anugerah terlembut dari Tuhan. Kematian memisahkan orang dari kegembiraan dan kesedihan sementara, yang hanya setetes belaka bagi jiwa. …di balik kematian ini terbentang Samudra Cahaya… (hlm. 33).

2. …kematian adalah sesuatu yang tak terelakkan, tetapi kalian takut padanya. Jiwa kalian takut ketika memikirkan kematian. Tetapi seorang Sufi tak meminta apa pun, dan tak takut pada apa pun, sebab ia telah memasrahkan hidupnya dan menyerahkan segala yang dimilikinya kepada Tuhan. (hlm. 34).

3. Kami berjuang untuk menaklukkan ego dalam pikiran dan perbuatan kami, dan berusaha bersyukur atas anugerah Allah dengan menghambakan diri dalam banyak pelayanan. (hlm. 113).

4. Ketika Allah menciptakan umat manusia, semuanya mengatakan mencintai-Nya. Maka Dia kemudian menciptakan kesenangan-kesenangan duniawi, dan sembilan per sepuluh dari mereka segera meninggalkan-Nya, sehingga yang tersisa hanya sepersepuluhnya. Kemudian Allah menciptakan kemegahan dan kenikmatan Surga, dan sembilan per sepuluh dari sepersepuluh yang tersisa itu meninggalkan-Nya. Lalu Allah menimpakan bencana dan kesedihan kepada sepersepuluh yang tersisa itu. Dan sembilan per sepuluh dari sepersepuluh yang tersisa itu juga melarikan diri dari-Nya. … Manusia-manusia yang menjauh dari-Nya itu terombang-ambing antara kesenangan, harapan, dan putus asa. Tapi, mereka yang tetap bertahan, yakni sepersepuluh dari sepersepuluh dari sepersepuluh yang tersisa, adalah manusia-manusia pilihan. Mereka tidak menginginkan dunia, tidak mengejar surga, dan tidak melarikan diri dari derita. Hanya Allah semata yang mereka inginkan, dan walaupun mereka menerima penderitaan dan cobaan yang bisa membuat gunung-gunung gemetar ketakutan, mereka tidak meninggalkan cinta dan kepasrahan kepada-Nya. Mereka adalah hamba Allah yang sejati, pencinta Allah yang sesungguhnya. (hlm. 124-125).

5. Mengikuti jalan cinta harus menjadi hamba sejati, harus melayani Tuhan dan segenap makhluk-Nya, agar mereka bisa menemukan jalan yang benar. (hlm. 115).

6. …Jika datang kepadamu orang yang sakit karena berpisah dari-Ku, sembuhkanlah dia. Atau bila karena melarikan diri dari-Ku, carilah dia. Atau jika karena takut kepada-Ku, yakinkanlah dia. Lalu beri bantuan kepadanya, atau kalau kau bertemu dengan orang yang mencari-Ku, bantulah dia mendekati-Ku. Atau jika dia amat membutuhkan rahmat-Ku, bantulah dia. Atau jika dia berharap kasih sayang-Ku, ingatkanlah dia. Dan jika dia tersesat, carilah dia. Sebab engkau telah ditakdirkan untuk membantu-Ku, dan engkau telah kuangkat untuk melayani-Ku. (hlm. 115).

7. Kebanyakan manusia tidak melihat bahwa dalam kesadaran akan cinta tersembunyi kesadaran akan Tuhan… (hlm. 154).

8. Ketahuilah… cinta adalah dasar dan prinsip dari jalan menuju Tuhan. Segala keadaan dan maqam adalah tahapan-tahapan cinta, yang tak akan bisa dihancurkan selama Jalan Cinta itu ada. (hlm. 282).

9. …ketika Tuhan menyuruh mereka melihat alam semesta yang diciptakan-Nya, mereka tak melihat hal-hal yang lebih berharga ketimbang diri mereka sendiri, dan karenanya mereka dipenuhi kebanggaan dan kesombongan… Tubuh sujud dalam shalat, dan jiwa meraih cinta, ruh sampai ke kedekatan dengan Tuhan, sedangkan hati beroleh kedamaian dalam persatuan dengan Allah… Cinta tak bisa dijelaskan. Penjelasan tentang cinta bukanlah cinta, karena cinta melampaui kata-kata… cinta adalah anugerah ilahi. Ia tak dapat direbut, juga tak bisa dilawan. (hlm. 283).

Dalam novel ini dikisahkan tokoh-tokoh yang gagal mengatasi dosa-dosa maut dalam diri—seven deadly sins: lust (syahwat), anger (amarah), envy (dengki), gluttony (rakus), greed (tamak), sloth (malas), pride (sombong) — menemui akhir yang tragis, antara lain sosok Afarnou (anak Amenukal yang menemui kematian sia-sia di gurun pasir karena ketamakan, kemalasan, dan kesombongannya) serta Ifrit yang menutup diri dari kebenaran dan rahmat Allah akibat kemarahan, kedengkian dan kesombongannya sehingga harus mengalami “hidup” yang pedih.

Sementara itu, tokoh-tokoh yang dengan penuh keikhlasan bersedia menghadapi kematian dalam menjalankan “tugas kehidupan” dengan berkelana tanpa tahu takdir apa yang bakal menjemput, justru selamat dan menemukan “jalan Tuhan”.

Menarik juga menyimak bahwa tokoh-tokoh yang berakhir baik tak selalu baik dan sempurna. Tidak hitam putih. Profesor Solomon adalah orang yang ragu yang baru tercerahkan pada usia tua. Ornias adalah jin maling dan pembunuh yang bertobat dan kemudian berhasil meningkatkan semesta dirinya. Sungguh, yang luar biasa bukanlah yang tak pernah jatuh, melainkan yang bisa bangkit dari kejatuhan. Mereka berhasil keluar dari “penjara diri” dengan mengatasi segala tarikan nafsu diri pribadi, menyatu dengan kehendak Tuhan melalui pengutamaan pelayanan terhadap sesama makhluk daripada kenyamanan pribadi, dan akhirnya meraih cinta, abadi dalam cinta.

Seperti kata Rumi, “Jika kau ingin mengetahui dirimu yang sejati, keluarlah dari dirimu/ Tinggalkan selokan dan mengalirlah menuju Sungai…” Atau seperti yang ditulis penyair sufi lainnya, “Ketahuilah bahwa ketika kau belajar kehilangan dirimu, kau akan mencapai Yang Terkasih…” Selaras pula dengan ajaran Lao Tze dalam Tao Teh Ching, “Yang mengalahkan diri sendiri disebut kuat… Yang mati tapi tak binasa disebut panjang umurnya.”

Dan, seperti yang sedikit banyak tergambar dalam novel ini, jalan menuju kesejatian itu jelas tak gampang dilalui. Sungguh tak mudah menaklukkan diri sendiri. Namun demikian, semoga kita semua termasuk orang-orang yang beruntung.


Apresiasi terhadap Novel Ini:
* Telah diterjemahkan ke dalam 8 bahasa.
* Terpilih sebagai salah satu buku yang harus dibaca dan dikaji di Oregon University, USA.

Kelebihan Buku Ini:
* Novel tentang spiritualitas Islam yang paling mendalam.
* The Alchemist dan Celestine Prophecy versi Islam.
* Pesan-pesannya universal bagi setiap para pejalan spiritual.
Preview and Information

Judul : Robinson Crusoe
ISBN : 978-979-1227-03-2
Penulis : Daniel Defoe
Penerbit : Bentang Pustaka
Tanggal terbit : April - 2007
Jumlah Halaman : 386 + xii
Jenis Cover : Soft Cover
Kategori : Petualangan
Text Bahasa : Indonesia

Sinopsis :
Robinson Crusoe, tokoh utama, adalah seorang yang lahir di keluarga kaya dan terpandang di London. Ayah dan kakeknya adalah pengusaha sukses. Robinson menolak kehidupan nyaman ini, ia menginginkan pergi melaut, berpetualang, berjuang, dan hidup penuh tantangan. Di luar perkiraannya, tak satu pun pelayaran yang nyaman dan mengasyikkan, laut adalah kehidupan yang super keras dan hanya "monster" yang tahan dengan kehidupan laut. Setelah kapalnya dihantam badai, ia berhasil tetap hidup. Ia berlanjut dengan menetap di Brazil dan sukses sebagai pengusaha perkebunan. Namun, godaan akan kekayaan yang lebih banyak membuatnya berlayar sekali lagi, menuju pantai-pantai Afrika untuk berdagang dengan orang sana: dagang hasil bumi dan budak. Kapalnya gagal tiba di Afrika karena badai, semua penumpang tewas kecuali dirinya.

Terdampar di sebuah pulau, Robinson harus hidup sendiri. Pahitnya takdir adalah pil yang harus ia telan, ia mengutuk jalan hidup ini, merenungkan masa lalunya hingga dosa apa yang telah ia perbuat hingga layak menerima jalan ini. Tapi, lama-kelamaan, ia mulai melihat sisi positif pada takdirnya. Di samping segala kesusahan yang ada, ia merasa bahwa banyak hal yang bisa dan harus ia syukuri.

Semakin matang pribadinya, semakin banyak pula hal yang bisa ia rayakan … Ia menjadikan dirinya sendiri semakin manusiawi, dengan belajar dari hewan-hewan, tanah, tanaman jagung, hujan, bahkan gempa bumi.

Catatan saya :
Apa yang tertulis pada cover bukunya, berikut komentar dan pujian positif tentang buku ini, benar-benar pas dan cocok untuk menggambarkan salah satu karya besar Abad-18 ini. Memang bahasa dalam buku ini sangatlah naratif (yang tidak disukai oleh sebagian pembaca indonesia), setidaknya sampai nyaris setengah dari buku ini, pembaca dihadapkan pada situasi batin dan pergolakan imajinatif tokoh Robinson Crusoe yang digambarkan sebagai orang biasa, yang hampir tidak mempunyai keahlian apa-apa, tapi mempunyai minat besar pada pelayaran dan petualangan. Bahkan ketika dia akhirnya berhasil menjadi pengusaha sukses di Brazil, nyatanya ia tetap berusaha mewujudkan egoismenya akan pelayaran.

Kisah yang paling mengharukan adalah ketika Robinson Crusoe terdampar di pulau, yang pada awalnya, merasa sangat kesepian dan perlahan-lahan membangun kepercayaan dirinya hingga bisa menaklukkan semua ketakutan dan kekhawatirannya. Mulai dari inisiatifnya membuat tempat tinggal (yang mirip benteng pertahanan), perlindungan bagi barang-barangnya, hingga bagaimana dia bisa membuat persediaan makanan sendiri.

Bagaimana dia meyakini semua kemalangan yang dialaminya sebagai tindakan takdir semata, hingga ketika akhirnya pandangan rohaninya terbuka, tatkala sendiri di pulau tak berpenghuni dan terkena sakit parah.

Penuturan kisah yang dramatis ini sangat 'njlimet' dan penuh detail, pesan moral yang tak biasa dan tersirat begitu banyak pelajaran hidup tentang keyakinan dan kerja keras.

Buku ini mengingatkan saya pada karya-karya romantis Prancis semacam 'Les Miserable'-nya Victor Hugo, tapi dalam kenyataannya, ini adalah karya sasra Inggris. Sebenarnya sudah lama saya tau tentang buku ini, tapi saya baru mendapatkannya menjelang awal Oktober 2011, bahkan di salah satu Toko Buku Loak, seharga Rp. 20,000,-, dengan keadaan masih bagus dan segel, hahaha...

Saya rasa, ini buku yag sangat bagus untuk pembaca yang menyukai kisah petualngan yang inspiratif, juga bagi penambah khazanah tentang karya sastra lama, juga sangat penting untuk dikoleksi, karena siapa tahu, suatu saat akan ada yang mau mebeli buku ini dengan harga tinggi... semoga!

Rating : 9/10

Tambahan :
Robinson Crusoe on Learn Library
Robinson Crusoe (pdf)

Preview and Information

Judul : Pangeran Pencuri - Herr Der Diebe
ISBN : 979-22-2008-9
Penulis : Cornelia Funke
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tanggal terbit : Maret - 2006
Jumlah Halaman : 420
Dimensi(L x P) : 145x210mm
Kategori : Remaja
Text Bahasa : Indonesia

Sinopsis :
Selamat datang di dunia ajaib kota Venezia di Italia, tempat kanal-kanal
tersembunyi dan gedung-gedung tua melindungi mereka yang tidak ingin ditemukan...

Prosper dan Bo anak yatim-piatu yang lari dari bibi dan paman mereka yang kejam. Kakak-beradik itu nekat pergi ke Venezia dan bertemu anak laki-laki misterius yang menjuluki dirinya Pangeran Pencuri.

Sang Pangeran Pencuri yang cerdas memimpin sekelompok anak jalanan yang biasa melakukan kejahatan kecil untuk menyambung hidup. Prosper dan Bo senang bergabung dengan keluarga baru yang penuh warna ini.

Petualangan mereka makin seru ketika mereka harus berhadapan dengan detektif penyayang kura-kura, pedagang barang antik yang penipu, dan fotografer pemilik barang antik yang dapat membuat orang jadi jauh lebih tua atau lebih muda dalam sekejab mata!

Menurut saya :
Ini adalah buku kedua Cornelia Funke yang saya baca setelah 'Drachenreiter' (yang sejak membacanya, saya langsung yakin bahwa Cornelia Funke termasuk salah 1 dari Penulis Cerita Anak Paling Berpengaruh Abad Ini', mengikuti jejak C.S. Lewis dan Enid Blyton.

Review ini sekaligus sebagia yang pertama di blog ini, yang dari dulu saya selalu berkeinginan membuat blog khusus yang berisi koleksi buku dan komik² saya.

Ok, berikut pendapat saya tentang buku ini;
Pangeran Pencuri menceritakan kisah petualangan Prosper dan Bo, yang lari dari Bibinya, Esther Hartlieb, dan terdampar di Venezia, kota air yang menakjubkan. Mereka kemudian bertemu dengan Scipio, Tawon, Mosca dan Riccio yang menjadi komplotan pencuri cilik. Selain itu ada juga Victor Getz, detektif yang disewa Esther Hartlieb untuk mencari Prosper dan Bo, tapi di tengah buku diceritakan, detektif itu malah menjadi teman keduanya dan membantu Prosper dan Bo meloloskan diri dari Bibinya. Petualangan seru pun berkembang menjadi jalinan persahabatan antar anak² itu, yang belakangan diketahui bahwa Scipio, yang mengaku dirinya Pangeran Pencuri, ternyata adalah anak seorang kaya, Dotter Massimo, yang bosan dengan kehidupan mewahnya, dan berlagak menjadi pencuri ulung, padahal sebenarnya, semua barang hasil curiannya diambil dari rumahnya sendiri. Hal ini sempat membuat persahabatan antara anak² itu mengalami keretakan, tapi kemudian ketika ada tawaran dari Sang Conte yang misterius, maka petualangan pun berkembang menjadi kisah yang ajaib, yang melibatkan 'Komidi Putar' yang bisa membuat orang yang menaikinya berubah menjadi lebih tua atau lebih muda.

Buku ini sangat bagus dan ringan dibaca, meskipun berukuran tebal (417+2 halaman peta Venezia). Cornelia Funke sanggup menghadirkan detil kota Venezia dengan sangat apik dan eksotik, berikut kanal² dan gang² sepi yang misterius. Beberapa monumen juga digambarkan dalam kisah ini (patung Cagalibri, si Gila Buku di Campo Morosini ternyata memang ada aslinya... hah), juga kebiasaan orang Venezia. Karakter tokoh-tokohnya beraneka warna mulai Scipio yang ngebos, Prosper yang cerdik, Bo yang polos, Tawon yang ceria namun menutupi jati dirinya, Barbarossa yang tamak, dan Victor si detektif yang sering sial. Adegan demi adegan dalam buku yang sarat petualangan ini bergulir dengan mulus dan ilustrasi-ilustrasi karya penulis yang menghiasi halaman-halaman buku menjadi nilai tambah novel anak yang dapat dinikmati segala usia ini.
imagebam.com
Melalui buku ini pembaca akan diajak menikmati serunya berpetualang bersama Pangeran Pencuri dalam menjalankan misinya. Di buku ini Cornelia Funke juga mengungkap apa yang ada dalam benak seorang anak-anak yang kadang menginginkan dirinya cepat untuk menjadi dewasa karena tidak ingin dirinya hidup dalam aturan-aturan yang menjemukan yang dibuat oleh orang dewasa. Kisah ini juga menggambarkan arti persahabatan dan bagaimana anak-anak dapat bertanggung jawab, saling menyayangi satu sama lainnya, juga sayang pada binatang (begitu banyaknya kalimat yang menggambarkan tentang Scipio yang mencemaskan kucing²nya, Bo yang selalu bermain dengan kucing dan Victor yang selalu khawatir dengan kesehatan sepasang kura² di kantornya...)

Pesan bagi para orang tua melalui cerita ini adalah agar membebaskan anak-anak mereka menjadi dirinya sendiri. Seorang anak adalah sesosok pribadi lain. Biarkan mereka tumbuh berkembang membentuk kepribadian sendiri.

Yaa... dan akhirnya saya akan mengutip sajak yang ada di halaman 7 buku ini :

Orang dewasa tidak ingat lagi, bagaimana rasanya, menjadi anak-anak.
Walaupun mereka mengaku begitu.

Mereka tidak tahu lagi. Percayalah padaku.

Mereka sudah lupa semuanya.

Betapa dunia dahulu berkesan lebih besar bagi mereka.

Betapa repotnya memanjat ke kursi.

Bagaimana rasanya kalau harus selalu menengadah?

Lupa.

Mereka tidak tahu lagi.
Kau pun akan melupakannya.

Kadang-kadang orang dewasa bercerita, betapa indahnya ketika mereka masih anak-anak.
Mereka bahkan bermimpi menjadi anak-anak lagi.
Tetapi apa yang mereka mimpikan ketika masih anak-anak?

Tahukah kau?

Aku rasa, mereka bermimpi ingin cepat-cepat dewasa.

Rating :
8/10